POLEMIK AL-ASMÂ AL-HUSNÂ DALAM AL-QUR`AN
Dimensi Feminin dan Maskulin
Keywords:
Al-Asmâ al-Husnâ, Paradoks, Al-Qur`anAbstract
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dualitas yang ada pada al-asmâ al-ẖusnâ bertentangan satu dengan yang lain. Seperti sifat al-Qâbidh (Maha Menyempitkan) namun juga al-Bâsith (Maha Meluaskan), al-Khâfidh (Maha Merendahkan) paradoks dengan ar-Râfi’ (Maha Meninggikan). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan deskriptif-analisis dengan menjelaskan secara utuh terkait al-asmâ al-ẖusnâ. Kemudian menganalisa dengan menggunakan metode maudhû’i, yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan al-asmâ al-ẖusnâ serta menghubungkan antara ayat satu dengan lainnya dengan korelasi yang bersifat komprehensif. Setelah itu, penulis mencari makna dari masing-masing al-asmâ al ẖusnâ. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa di dalam periodisasi pewahyuan yang menggunakan teori pewahyuan dalam al-Qur`an Allah lebih banyak menginformasikan atau mengunggulkan sifat jamâliyah-Nya dibanding sifat jalâliyah. Hal tersebut secara umum dapat diselesaikan dengan cara memahami sifat-sifat Allah tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya, namun saling melengkapi. Sifat kasih sayang (ar-raẖmân) dan sifat (al-muntaqim) Allah tidak bertentangan, tetapi saling mendukung, sehingga, jika terkadang terlihat bertentangan dalam sudut pandang manusia yang terbatas, namun dalam pandangan yang lebih luas, kedua sifat tersebut saling berpadu dan harmonis dalam keagungan Allah. Al-asmâ al-ẖusnâ terlihat paradoks karena pemahaman manusia masih bersifat parsial, belum menyeluruh. Bukan sifat-sifat Allah yang bertentangan, namun pemahaman manusia terhadap Allah yang bersifat parsial. Akibatnya seolah-olah ada paradoks di dalam nama-nama Nya.